Rabu, 01 Januari 2014

Bambu Terakhir



sumber gambar: bamboofoundation.blogspot.com


Seorang pemuda di stasiun pernah bercerita padaku mengenai seorang pemuda petani yang memiliki sebuah pohon bambu. Ya, hanya bambu biasa.
There is nothing special with the bamboo, isn’t it?” tanyaku.
Kau tahu apa katanya?
“Bukan bambunya yang unik, tapi pemudanya.”

****

Ada seorang pemuda petani yang tinggal di sebuah desa. Di halaman rumahnya, terdapat sebuah pohon bambu. Ketika pemuda itu masih kecil, dia pernah mengukir inisial namanya di salah satu ruas bambu itu. Kapanpun ia membutuhkan bambu, ia memotong ruas lain bambu itu, sehingga inisial namanya masih ada di sana. Ia juga terkadang duduk di depan rumah, memandangi bambu beserta ukiran inisialnya di sana.
Tahun demi tahun berlalu. Berkat kerja kerasnya, pemuda ini telah menjadi seorang juragan kaya di desanya. Sawahnya telah berkembang dengan sangat bagus, begitu pula dengan pohon bambunya yang sudah tumbuh menjadi yang terbesar di desanya. Dia semakin senang, tapi juga semakin takut.
“Bagaimana jika ada pencuri yang mengincar bambuku?” tanyanya dalam hati. “Ah, ya! Kubuat saja tembok pelindung di sekelilingnya.”
Alhasil, dibuatlah tembok batu dengan tinggi 1,5x tinggi tubuhnya. Setiap kali ia pulang dari sawah, ia selalu membawa beberapa bongkah batu untuk membuat temboknya. Batu-batu itu dibentuk sedemikian rupa dan direkatkan menggunakan jerami dan lumpur. Setelah berbulan-bulan, akhirnya tembok itu jadi juga, lebar dan kokoh.
Pada hari pertama musim hujan, hujan turun dengan derasnya. Pemuda ini tidak kembali ke rumah selama 3 hari. Sawahnya telah kehilangan kepadatan karena bebatuannya sering dia ambil untuk membuat tembok dan rusak oleh hujan deras. Para petaninya pun tak mau membantunya, hingga ia pulang di tengah hujan dengan putus asa.
 “Setidaknya bambuku aman… eh, tunggu! Ada sesuatu yang aneh di sana. Ada air mengalir dari tembokku!”
Ketika ia mengintip dari tempat yang lebih tinggi, ia baru mengetahui bahwa bagian dalam temboknya telah tergenang air, dan itu berarti bambunya juga tergenang air. Melihat bambunya tergenang, hasratnya untuk menyelamatkan bambunya mulai muncul. Tanpa pikir panjang, ia mulai menghancurkan bagian atas tembok. Batu-batunya mulai berjatuhan, dan air yang menggenang mulai mengguyurnya dengan keras hingga ia jatuh terjerembab.
Pemuda itu mulai marah. Ia menendang dan memukuli tembok itu habis-habisan. Ia lupa bahwa tembok itu hanya direkatkan oleh lumpur dan jerami dan dapat roboh bila mendapat tekanan keras secara terus-menerus. Tembok itu perlahan-lahan retak dan roboh menimpanya, diikuti oleh air bah di dalamnya.
Hal terakhir yang ia lihat adalah bambunya yang masih berdiri kokoh dan bangga di sana.
Hujan berhenti. Si pemuda ditemukan meninggal dalam keadaan terpendam reruntuhan tembok.
Beberapa hari kemudian, seseorang menebang pohon bambu itu untuk membuat kandang babi.

****

Aku terdiam setelah mendengar ceritanya.
“Mengapa ia begitu terobsesi dengan bambunya, bahkan hingga ia mau nyawanya terambil demi pohon itu?” tanyaku.
“Entahlah, aku juga tak tahu. Tapi menurutku, ketika ia ingin menyelamatkan pohon bambunya, ia memang punya niat tulus untuk itu. Namun, niat itu dilandasi oleh obsesi berlebihan yang membuatnya tak bisa memikirkan apa yang akan terjadi bila ia menghancurkan temboknya. Obsesi ini juga yang menyebabkan sawahnya hancur. Ingat, kan, batu-batunya ia ambil dari mana?” tanyanya.
Aku mengangguk.
“Itulah yang terkadang menjadi penyakit hati manusia. Manusia akan melakukan hal apapun untuk memenuhi obsesinya, namun kadang ia tak memikirkan dampak lain yang bisa muncul. Bila itu dampak positif, oke lah. Bila dampak negatif?
Ingat, tak ada yang tahu apa yang akan terjadi nanti. Berhati-hatilah dengan obsesi dan berpikirlah sebelum bertindak.”
Setelah menyelesaikan ceritanya, pemuda di sebelahku itu mengucapkan selamat tinggal padaku. Ia berjalan tegap menuju peron, meninggalkanku yang masih diam di tempat menunggu kereta selanjutnya.


(diadopsi dari kisah The Last Bamboo karya David L. Larcom, 2003, “English is Fun” hal. 43-44, penerbit Kesaint Blanc, Bekasi Timur, dengan pengubahan)

Sungkan: Perlukah Dibudayakan?



Kata “sungkan” pasti sudah tidak asing di telinga kita. Biasanya, kata ini sering didengar ketika ingin bertamu ke rumah seseorang. Biasanya seperti ini percakapannya:
“Masuk, yuk!”
“Kamu dulu, ah!”
“Lho, kenapa? Ayo masuk”
Nggak ah, sungkan.”
atau:
“Ayo kenalan sama mbaknya yang itu.”
Nggak, ah, sungkan.”
Atau kalau di tempat umum, biasanya bentuknya seperti ini:
“Eh, orang itu merokok sembarangan. Ayo kita ingatkan.”
Nggak ah, sungkan.

Sungkan sendiri dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia memiliki arti “malas (mengerjakan sesuatu); enggan; merasa tidak enak hati: menaruh hormat; segan”. Dalam penggunaannya, sungkan sering disalahartikan sebagai “respek” atau “hormat”. Padahal sebenarnya bukan!
Sungkan secara definisi lebih cenderung berarti perasaan tidak enak untuk melakukan sesuatu karena merasa takut atau berburuk sangka akan terjadi sesuatu yang tidak diinginkan, meski sesuatu itu mungkin tidak pernah terjadi. Hal ini tentu berbeda dengan preventif yang tidak mengedepankan perasaan takut dan buruk sangka.
Sebenarnya, bila ditelaah lagi, perlukan sungkan itu, apalagi di setiap saat?
Terkadang sungkan itu perlu untuk membatasi sikap dan tingkah laku kita kepada orang lain khususnya yang lebih tua dari kita. Namun, bila sungkan itu dilebarkan ke hal lain, urgensinya bisa berubah. Sungkan bisa disalahgunakan untuk berkilah dari rasa malas yang menghalangi seseorang untuk berbuat sesuatu, misalnya berbicara kepada orang yang lebih tua. Sungkan juga bisa disalahgunakan untuk menutupi rasa takut yang dirasakan ketika akan berbicara atau menegur orang lain, meskipun orang itu memang wajib ditegur.
Percaya atau tidak, satu-satunya yang akan dilakukan orang ketika merasa sungkan adalah diam. Diam memang terkadang perlu dilakukan pada kondisi tertentu, namun diam justru juga bisa menjadi ajang untuk menghambat perubahan. Sebagai contoh, ketika kita tahu orang lain salah, tapi kita sungkan untuk menegurnya dan kita diam saja, otomatis sampai kapanpun dia tak akan menyadari kesalahannya. Contoh kedua, ketika kita tidak mengerti dengan materi yang dijelaskan, bila kita diam saja dan sungkan untuk bertanya, kapan kita bisa mengerti?
Rasanya tidak perlu lah ya, sungkan itu dibawa-bawa terus secara kelewatan dalam kehidupan sehari-hari. Memang harus ada batasan-batasan dalam berbicara pada orang lain, namun bukan berarti rasa takut dan malas yang dijadikan pembatas, lalu dikonversikan menjadi sungkan, dan diakhiri dengan diam. Jika bukan kita yang memulai untuk bicara, siapa lagi?


 sumber gambar: orangizenk.blogspot.com