sumber gambar: bamboofoundation.blogspot.com
Seorang pemuda di stasiun pernah
bercerita padaku mengenai seorang pemuda petani yang memiliki sebuah pohon
bambu. Ya, hanya bambu biasa.
“There is nothing special with the bamboo, isn’t it?” tanyaku.
Kau tahu apa katanya?
“Bukan bambunya yang unik, tapi
pemudanya.”
****
Ada seorang pemuda petani yang
tinggal di sebuah desa. Di halaman rumahnya, terdapat sebuah pohon bambu.
Ketika pemuda itu masih kecil, dia pernah mengukir inisial namanya di salah
satu ruas bambu itu. Kapanpun ia membutuhkan bambu, ia memotong ruas lain bambu
itu, sehingga inisial namanya masih ada di sana. Ia juga terkadang duduk di
depan rumah, memandangi bambu beserta ukiran inisialnya di sana.
Tahun demi tahun berlalu. Berkat
kerja kerasnya, pemuda ini telah menjadi seorang juragan kaya di desanya. Sawahnya
telah berkembang dengan sangat bagus, begitu pula dengan pohon bambunya yang
sudah tumbuh menjadi yang terbesar di desanya. Dia semakin senang, tapi juga
semakin takut.
“Bagaimana jika ada pencuri yang
mengincar bambuku?” tanyanya dalam hati. “Ah, ya! Kubuat saja tembok pelindung
di sekelilingnya.”
Alhasil, dibuatlah tembok batu dengan
tinggi 1,5x tinggi tubuhnya. Setiap kali ia pulang dari sawah, ia selalu
membawa beberapa bongkah batu untuk membuat temboknya. Batu-batu itu dibentuk
sedemikian rupa dan direkatkan menggunakan jerami dan lumpur. Setelah
berbulan-bulan, akhirnya tembok itu jadi juga, lebar dan kokoh.
Pada hari pertama musim hujan,
hujan turun dengan derasnya. Pemuda ini tidak kembali ke rumah selama 3 hari.
Sawahnya telah kehilangan kepadatan karena bebatuannya sering dia ambil untuk
membuat tembok dan rusak oleh hujan deras. Para petaninya pun tak mau
membantunya, hingga ia pulang di tengah hujan dengan putus asa.
“Setidaknya bambuku aman… eh, tunggu! Ada
sesuatu yang aneh di sana. Ada air mengalir dari tembokku!”
Ketika ia mengintip dari tempat
yang lebih tinggi, ia baru mengetahui bahwa bagian dalam temboknya telah
tergenang air, dan itu berarti bambunya juga tergenang air. Melihat bambunya
tergenang, hasratnya untuk menyelamatkan bambunya mulai muncul. Tanpa pikir
panjang, ia mulai menghancurkan bagian atas tembok. Batu-batunya mulai
berjatuhan, dan air yang menggenang mulai mengguyurnya dengan keras hingga ia
jatuh terjerembab.
Pemuda itu mulai marah. Ia
menendang dan memukuli tembok itu habis-habisan. Ia lupa bahwa tembok itu hanya
direkatkan oleh lumpur dan jerami dan dapat roboh bila mendapat tekanan keras
secara terus-menerus. Tembok itu perlahan-lahan retak dan roboh menimpanya,
diikuti oleh air bah di dalamnya.
Hal terakhir yang ia lihat adalah
bambunya yang masih berdiri kokoh dan bangga di sana.
Hujan berhenti. Si pemuda ditemukan
meninggal dalam keadaan terpendam reruntuhan tembok.
Beberapa hari kemudian, seseorang
menebang pohon bambu itu untuk membuat kandang babi.
****
Aku terdiam setelah mendengar
ceritanya.
“Mengapa ia begitu terobsesi dengan
bambunya, bahkan hingga ia mau nyawanya terambil demi pohon itu?” tanyaku.
“Entahlah, aku juga tak tahu. Tapi
menurutku, ketika ia ingin menyelamatkan pohon bambunya, ia memang punya niat
tulus untuk itu. Namun, niat itu dilandasi oleh obsesi berlebihan yang
membuatnya tak bisa memikirkan apa yang akan terjadi bila ia menghancurkan
temboknya. Obsesi ini juga yang menyebabkan sawahnya hancur. Ingat, kan,
batu-batunya ia ambil dari mana?” tanyanya.
Aku mengangguk.
“Itulah yang terkadang menjadi
penyakit hati manusia. Manusia akan melakukan hal apapun untuk memenuhi
obsesinya, namun kadang ia tak memikirkan dampak lain yang bisa muncul. Bila
itu dampak positif, oke lah. Bila dampak negatif?
Ingat, tak ada yang tahu apa yang
akan terjadi nanti. Berhati-hatilah dengan obsesi dan berpikirlah sebelum
bertindak.”
Setelah menyelesaikan ceritanya,
pemuda di sebelahku itu mengucapkan selamat tinggal padaku. Ia berjalan tegap
menuju peron, meninggalkanku yang masih diam di tempat menunggu kereta
selanjutnya.
(diadopsi dari kisah The
Last Bamboo karya David L. Larcom, 2003, “English is Fun” hal. 43-44, penerbit Kesaint Blanc, Bekasi Timur,
dengan pengubahan)

