Rabu, 01 Januari 2014

Sungkan: Perlukah Dibudayakan?



Kata “sungkan” pasti sudah tidak asing di telinga kita. Biasanya, kata ini sering didengar ketika ingin bertamu ke rumah seseorang. Biasanya seperti ini percakapannya:
“Masuk, yuk!”
“Kamu dulu, ah!”
“Lho, kenapa? Ayo masuk”
Nggak ah, sungkan.”
atau:
“Ayo kenalan sama mbaknya yang itu.”
Nggak, ah, sungkan.”
Atau kalau di tempat umum, biasanya bentuknya seperti ini:
“Eh, orang itu merokok sembarangan. Ayo kita ingatkan.”
Nggak ah, sungkan.

Sungkan sendiri dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia memiliki arti “malas (mengerjakan sesuatu); enggan; merasa tidak enak hati: menaruh hormat; segan”. Dalam penggunaannya, sungkan sering disalahartikan sebagai “respek” atau “hormat”. Padahal sebenarnya bukan!
Sungkan secara definisi lebih cenderung berarti perasaan tidak enak untuk melakukan sesuatu karena merasa takut atau berburuk sangka akan terjadi sesuatu yang tidak diinginkan, meski sesuatu itu mungkin tidak pernah terjadi. Hal ini tentu berbeda dengan preventif yang tidak mengedepankan perasaan takut dan buruk sangka.
Sebenarnya, bila ditelaah lagi, perlukan sungkan itu, apalagi di setiap saat?
Terkadang sungkan itu perlu untuk membatasi sikap dan tingkah laku kita kepada orang lain khususnya yang lebih tua dari kita. Namun, bila sungkan itu dilebarkan ke hal lain, urgensinya bisa berubah. Sungkan bisa disalahgunakan untuk berkilah dari rasa malas yang menghalangi seseorang untuk berbuat sesuatu, misalnya berbicara kepada orang yang lebih tua. Sungkan juga bisa disalahgunakan untuk menutupi rasa takut yang dirasakan ketika akan berbicara atau menegur orang lain, meskipun orang itu memang wajib ditegur.
Percaya atau tidak, satu-satunya yang akan dilakukan orang ketika merasa sungkan adalah diam. Diam memang terkadang perlu dilakukan pada kondisi tertentu, namun diam justru juga bisa menjadi ajang untuk menghambat perubahan. Sebagai contoh, ketika kita tahu orang lain salah, tapi kita sungkan untuk menegurnya dan kita diam saja, otomatis sampai kapanpun dia tak akan menyadari kesalahannya. Contoh kedua, ketika kita tidak mengerti dengan materi yang dijelaskan, bila kita diam saja dan sungkan untuk bertanya, kapan kita bisa mengerti?
Rasanya tidak perlu lah ya, sungkan itu dibawa-bawa terus secara kelewatan dalam kehidupan sehari-hari. Memang harus ada batasan-batasan dalam berbicara pada orang lain, namun bukan berarti rasa takut dan malas yang dijadikan pembatas, lalu dikonversikan menjadi sungkan, dan diakhiri dengan diam. Jika bukan kita yang memulai untuk bicara, siapa lagi?


 sumber gambar: orangizenk.blogspot.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar