Kata “sungkan” pasti sudah tidak asing di telinga kita.
Biasanya, kata ini sering didengar ketika ingin bertamu ke rumah seseorang.
Biasanya seperti ini percakapannya:
“Masuk, yuk!”
“Kamu dulu, ah!”
“Lho, kenapa? Ayo masuk”
“Nggak ah,
sungkan.”
atau:
“Ayo kenalan sama mbaknya yang itu.”
“Nggak, ah,
sungkan.”
Atau kalau
di tempat umum, biasanya bentuknya seperti ini:
“Eh, orang itu merokok sembarangan. Ayo kita ingatkan.”
“Nggak ah, sungkan.
Sungkan sendiri dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia memiliki
arti “malas (mengerjakan sesuatu); enggan; merasa tidak enak hati:
menaruh hormat; segan”. Dalam penggunaannya, sungkan sering disalahartikan
sebagai “respek” atau “hormat”. Padahal sebenarnya bukan!
Sungkan secara definisi lebih cenderung berarti perasaan
tidak enak untuk melakukan sesuatu karena merasa takut atau berburuk sangka
akan terjadi sesuatu yang tidak diinginkan, meski sesuatu itu mungkin tidak
pernah terjadi. Hal ini tentu berbeda dengan preventif yang tidak mengedepankan
perasaan takut dan buruk sangka.
Sebenarnya, bila ditelaah lagi, perlukan sungkan itu, apalagi
di setiap saat?
Terkadang sungkan itu perlu untuk membatasi sikap dan tingkah
laku kita kepada orang lain khususnya yang lebih tua dari kita. Namun, bila
sungkan itu dilebarkan ke hal lain, urgensinya bisa berubah. Sungkan bisa
disalahgunakan untuk berkilah dari rasa malas yang menghalangi seseorang untuk
berbuat sesuatu, misalnya berbicara kepada orang yang lebih tua. Sungkan juga
bisa disalahgunakan untuk menutupi rasa takut yang dirasakan ketika akan
berbicara atau menegur orang lain, meskipun orang itu memang wajib ditegur.
Percaya atau tidak, satu-satunya yang akan dilakukan orang
ketika merasa sungkan adalah diam. Diam memang terkadang perlu dilakukan pada
kondisi tertentu, namun diam justru juga bisa menjadi ajang untuk menghambat
perubahan. Sebagai contoh, ketika kita tahu orang lain salah, tapi kita sungkan
untuk menegurnya dan kita diam saja, otomatis sampai kapanpun dia tak akan
menyadari kesalahannya. Contoh kedua, ketika kita tidak mengerti dengan materi
yang dijelaskan, bila kita diam saja dan sungkan untuk bertanya, kapan kita
bisa mengerti?
Rasanya tidak perlu lah ya, sungkan itu dibawa-bawa terus
secara kelewatan dalam kehidupan sehari-hari. Memang harus ada batasan-batasan
dalam berbicara pada orang lain, namun bukan berarti rasa takut dan malas yang
dijadikan pembatas, lalu dikonversikan menjadi sungkan, dan diakhiri dengan
diam. Jika bukan kita yang memulai untuk bicara, siapa lagi?
sumber gambar: orangizenk.blogspot.com

Tidak ada komentar:
Posting Komentar